Meditrania Private Course | Lembaga Les Privat Se-Jabodetabek | OPEN REGISTRATION | Daftar Sekarang

Mediterania Private Course

Belajar dengan Tutor yang menyenangkan dan memahami karakter murid

Solusi Belajar terbaik

Belajar dengan memahami dengan cara memahami konsep secara jelas

Lembaga Les Privat Se-Jabodetabek

Tutor menguasai materi pembelajaran dengan baik

Les Privat Mediterania

Memberikan siswa kesadaran dan minat belajar lebih tinggi sehingga dapat belajar mandiri

Revolusi Belajar Masa Kini

Merangsang rasa kepercayaan diri siswa dalam kelas sehingga lebih berani untuk maju dan tampil dikelas

Rabu, 18 Maret 2015

Bagaimana Cara Memilih Les yang Tepat untuk Anak?


Cari Tahu Minatnya
Tak semua anak suka pada beragam kegiatan di luar sekolah, seperti menjalani banyak les yang cukup menyita waktu. Itulah pendapat psikolog Mira D. Amir, Psi. tentang anak-anak yang malas jika diminta untuk mengikuti les oleh orangtuanya. “Mereka ini termasuk anak yang bukan fast movers, nggak terlalu aktif, dan biasanya lebih senang bersendiri,” jelasnya. Untuk anak-anak dengan tipe seperti ini, meminta mereka menjalani berbagai macam les memang bukan perkara mudah.
Menurut Mira, hal ini akan menjadi masalah jika orangtua yang belum tahu apa bakat dan kesukaan anaknya dan pada akhirnya memasukkan mereka ke berbagai macam les. Kurangnya minat anak ditambah dengan terlalu padatnya jadwal les, bukan nggak mungkin akan membuat si kecil kelelahan dan ujung-ujungnya jadi menentang orangtua. Pernah mengalami kejadian anak malah marah-marah saat disuruh les atau dengan sengaja pura-pura tidur? Nah, itu tanda-tanda kalau anak sebenarnya nggak berminat dengan les yang dijalaninya.

Orangtua Harus Pintar
Mira memiliki rumus untuk mengetahui apakah anak Anda memang senang dan berminat dengan les yang dijalaninya. “Lihat deh sikap anak selama menjalani les. Kalau dia berminat, dia nggak akan merasa capek atau jenuh. Kondisi apapun, seberapa sering les dalam seminggu, dia tetap semangat menjalaninya. Istilahnya, nggak ada kondisi apapun yang bisa menghentikan anak untuk les, kalau mereka memang senang,” ujar Mira.

Disinilah peran orangtua untuk pintar-pintar menilai apa bakat sebenarnya si anak. Nggak perlu ikut-ikutan orangtua lain yang menyuruh anaknya les menghitung cepat atau les musik yang belum tentu disukai anakmu. Komunikasi berperan penting untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh anak. Jika mereka memang menolak tawaran les yang kamu berikan, meskipun kamu tahu les itu akan sangat bermanfaat untuknya, jangan dipaksa, Bu. Toh, hasil akhirnya akan percuma, bisa jadi si kecil berhenti les di tengah jalan padahal kami sudah membayar biayanya sampai selesai.

Pertimbangkan Tempat dan Metode Les
Tempat dan metode les yang dilakukan oleh anak juga sangat berpengaruh terhadap semangat mereka menjalani les. Hanum (32) punya pengamalan saat Shifa (8) enggan meneruskan les Bahasa Inggris di sebuah tempat dengan alasan yang nggak jelas. Ibu dua anak ini berpikir Shifa memang nggak suka les Bahasa Inggris. Tapi, saat anaknya memang harus meneruskan les bahasa asing tersebut, Hanum memutuskan untuk memindahkan tempat les Shifa. Hasilnya, anak pertamanya itu ternyata semangat sekali menjalani les tanpa pernah mengeluh sedikit pun.
Metode les yang dijalani anak juga sangat berpengaruh. Saat Anda memutuskan untuk memberikan les privat pada anak dengan pengajarnya yang datang ke rumah, mungkin Anda bermaksud baik agar anak nggak perlu capek menghabiskan waktu di jalan. Tapi, pada beberapa anak, les privat di rumah sama artinya dia nggak bisa bertemu dan bermain dengan teman baru di tempat les. Belajar dari pengalaman Hanum, kenapa Anda nggak mencoba memasukkan anak ke tempat les agar dia jadi lebih semangat.
Intinya, Bu, sebagai orangtua Anda harus lebih jeli melihat tanda-tanda yang diberikan anak. Meminta anak untuk menjalani les memang baik, tapi jika Anda terlalu memaksa dan malah jadi lebih sering memarahi anak karena mereka nggak mau les, itu malah jadi membawa dampak negatif, kan?!



Profesi Guru Privat Dimata Orang Indonesia


            Ditaati dan ditiru, begitu kira-kira orang menyebut profesi yang satu ini. Keberadaan guru privat memang bukan hal yang asing lagi bagi kita, sejak kita mengenal apa yang disebut sekolah, mungkin kita sudah akrab dengan apa yang disebut guru privat. Bagaimana cara kerja guru privat ini, kemudian bagaimana prospeknya bagi kita ahasiswa) ke depan? Apakah profesi ini dapat mengem-bangkan diri kita? Apakah cukup menantang untuk ditekuni?Lebih santai, mungkin kata-kata itulah yang menyebabkan profesi ini banyak digeluti oleh mahasiswa yang sering nganggur di waktu seng-gangnya. Itulah sebabnya mengapa banyak mahasiswa memilih profesi ini, karena mereka dapat bekerja tanpa mengganggu jadwal kuliah, selain itu upah dari mengajar lumayan juga untuk menambah uangsaku mereka.
Profesi tersebut di kalangan mahasiswa akhir-akhir ini sering di perbincangkan dan cen-derung menjadi trend, bahkan bisnis inipun menjalar di kampus- kampus, bahkan di kampus kita sendiri. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pamflet-pemflet yang berisi ajakan untuk bergabung dengan lembaga les privat  yang ditempel di papan pengu-muman di kampus kita.Guru privat tidak berbeda jauh dengan guru-guru lain pada umumnya, yaitu mereka bertugas mengajar, dan mentransfer ilmunya kepada murid-murid yang di-ajarinya, selain itu mereka dituntut untuk mendidik dan mengayom murid-muridnya serta memberikan contoh yang baik kepada mereka. Secara harfiah arti guru privat sendiri adalah guru yang bersifat pribadi, yaitu seorang guru yang mengajar muridnya secara khusus/mem-berikan perhatian khusus kepada mereka di luar jam belajar sekolah. Perbedaan yang mendasar adalah, jika guru privat bersifat lebih pribadi, artinya,  satu guru untuk sedikit murid, biasanya sekitar satu sampai empat orang (maksimum), sedang-kan guru pada umumnya, mengajar murid-murid dalam sekelas yang jumlahnya lebih banyak, sekitar 30 sampai 40 orang. Guru Privat juga cenderung  lebih bebas dalam me-nentukan waktu dan tempat belajar bagi muridnya, biasanya di rumah murid yang bersangkutan, atau di tempat lain tergantung dari kese-pakatan kedua belah pihak.
Tidak perlu lulus S1, S2 atau lulus sekolah pendidikan untuk menjadi seorang guru privat. Kita para mahasiswapun dapat menjadi guru privat. Dengan modal prestasi akademik yang lumayan dan me-nyukai anak-anak serta memiliki keahlian komunikasi yang baik kita dapat menjadi seorang guru privat, baik untuk jenjang SD, SLTP, maupun SMU. Tetapi kebanyakan dari paramahasiswa enggan untuk menjadi guru privat SMU, karena menurut mereka, pelajaran SMU sudah terlalu sulit untuk dikuasai, seperti yang dituturkan oleh Eva, salah satu guru privat yang juga mahasiswa FE semester enam ”…saya sudah terlalu susah untuk memahami pelajaran SMU, tapi kalo bahasa Inggris  dan akuntansi dasar mungkin saya bisa”,  ujar Eva. Lain halnya dengan Neni, seorang Alumni FE Undip yang nyambi kerja sebagai guru privat, bagi dia yang  terpenting adalah bagaimana ia dapat mendukung dan menyemangati para muridnya untuk belajar, ”..menjadi guru privat itu gak harus pinter pinter banget, walaupun begitu kita harus menguasai materi pelajaran, dan yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mensupport murid yang kita bina tersebut”, ujar Neni.
      Guru privat ini ada yang bekerja sendiri, dan bekerja pada lembaga bimbingan belajar, pada guru privat yang bekerja sendiri, mereka tidak terikat oleh lembaga pendidikan yang merekrutnya, mere-ka biasanya menentukan  terif sendiri. Tarif mereka biasanya sekitar  Rp10.000,00 sampai Rp15.000,00perorang pada sekali pertemuan, setiap pertemuan kira-.kira 1,5 jam sampai 2 jam, dan  biasanya  pula dalam seminggu terdapat 2 kali pertemuan. Menurut penuturan Dani, seorang guru privat yang bersolo karir, profesi ini sangat menguntungkan,”…kalau pas dapet-nya murid yang ortunya baik, seperti saya, malah dapet ongkos jalan, gajinyapun lumayan gede, selain itu ortunya sering ngejajanin saya..” tutur Dani. Lain halnya dengan guru privat yang bergabung pada lembaga belajar, mereka mendapat gaji dari  lembaga yang bersangkutan, biasa-nya mendapat sekitar 50% dari ongkos les privat, dan 50% sisanya untuk lembaga yang menangani les privat tersebut. Menurut mereka biaya tersebut digunakan untuk membiayai pencarian murid-murid bimbingan belajar yang mereka kelola, baik melalui iklan-iklan dan pamflet-pamflet yang mereka sebar-kan.
Setiap guru privat paling banyak menangani sekitar 3 atau 4 orang dan mereka mengajar pada waktu dan tempat yang berbeda pada setiap siswanya, hal inilah yang membuatpara guru privat enggan untuk bekerja kepada  lembaga bimbingan belajar, karena selain gaji yang diterima kecil, mereka harus mengeluarkan biaya lagi untuk transportasi. Jelas   hal ini tidak menguntungkan bagi guru privat, sehingga banyak dari mereka lebih memilih untuk bekerja sendiri tanpa harus bekerja dengan lembaga belajar. Profesi ini memang tidak menjanjikan kita memperoleh peng-hasilan yang cukup, tetapi manfaat yang kita peroleh lebih dari materi yang kita terima, “ …bukan masalah uang yang kita terima, tetapi bagaimana kita dapat mencoba untuk bekerja, dan memperoleh kepuasan dari pekerjaan kita….”ujar Adi, salah seorang guru privat, yang expert terhadap matapelajaran bahasa Inggris berkata. Kepuasan akan keberhasilan men-dididk murid-murid itulah yang mereka harapkan, selain juga untuk tetap mengasah kemampuan kita dalam memahami konsep dasar yang sudah kita peroleh dulu, “..duitnya sih gak seberapa, tetapi ada kepuasan tersendirilah, kalau  kita berhasil membuat nak didik kita lebih berprestasi” seperti yang dituturkan Eva. 
Tuntutan yang sangat diperlukan dalam menekuni profesi ini adalah kemampuan untuk dapat berko-munikasi dengan baik. Tentunya kita tidak begitu kesulitan dalam menghadapi murid yang pintar dan mudah menerima apa yang kita berikan, tapi lain halnya dengan murid yang mempunyai kemampuan lemah dalam menangkap materi yang kita ajarkan padanya sehingga dalam hal ini kita dituntut untuk lebih sabar dan telaten dalam mem-bimbing. Melihat itu semua, bermi-natkah anda sebagai seorang mahasiswa menjadi kan guru privat sebagai aktivitas sampingan selain tetap berkonsentrasi untuk me-nyelesaikan kuliah?